More

    Memahami Kerja, Membebaskan Diri

    Penulis: Muh. Chaeroel Ansar | Gambar: http://www.pixabay.com

    Pekerjaan, satu hal yang kita perbincangkan secara umum, biasanya diskursus pekerjaan baru kita masuki setelah meraih pendidikan dan dianggap telah memiliki kemampuan (skill), tetapi tidak semua demikian, sebab tidak sedikit pula kita menyaksikan orang-orang yang tidak memiliki rekam jejak pendidikan tetap bekerja dalam kesehariannya; pembantu rumah tangga, pak ogah, pembersih jalan, dan lain sebagainya.

    Di tengah pandemi ini, kerja dan pekerjaan menjadi buzzword yang menyertai keseharian kita, baik terucap secara resmi oleh pemerintah maupun curhatan-individual di media sosial, atau bahkan beberapa saat yang lalu seorang kawan bercerita tentang dirinya yang diputus hubungan-kerja oleh perusahaan (PHK) hingga merasa kehilangan pekerjaan, tercatat oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), kondisi yang sama dirasakan oleh lebih dari sepuluh juta orang Indonesia.

    Tentu, data itu sangat menyedihkan, mengingat keserakahan profit tidak berbanding-lurus dengan penyelamatan dapur pekerja yang di-PHK, profit terkonsentrasi kepada pemilik modal yang serakah. Menariknya, apakah mereka yang tetap bekerja merasa bekerja dan merasa bermanfaat dengan kehidupannya?

    Tulisan ini berupaya untuk mengurai pertanyaan itu dengan menghadirkan seorang Antropolog Amerika melalui karyanya yang berjudul Bullshit Jobs: A Theory, ialah David Rolfe Graeber. Buku ini diterbitkan oleh Simon & Schuster tahun 2018, yang jangkauan distribusinya ke seluruh dunia.

    Sebelum terbitnya buku ini dalam uraian panjang, pada tahun 2013, tawaran provokatif majalah kiri-radikal bernama Strike! menjadi pemicu kawan David untuk menulis tentang suatu hal yang tidak seorangpun mau menerbitkannya, uraian esai singkat berjudul On the Phenomenon of Bullshit Jobs. Seiring respons publik yang begitu antusias dengan konten esai tersebut, membuat David meneruskannya dalam suatu rangkaian penelitian hingga menjadi buku teoritik dua tahun yang lalu.

    Lebih lanjut, David terkesan dengan respons lembaga survei yang menjadikan konten esainya sebagai pertanyaan survei, misal apakah pekerjaan Anda memberikan kontribusi bagi dunia? Hasilnya 37% meyatakan TIDAK di Inggris, di luar dugaan Graeber yang meyakini hanya berada pada kisaran 20%. Terlebih, survei di Belanda lebih dari itu semua, 40% berkata TIDAK, dan bahkan meyakini pekerjaannya tidak perlu ada. Apakah Anda bagian dari mereka juga?

    Kawan David mendefinisikan istilah Bullshit Jobs (BSJ) sebagai bentuk pekerjaan yang sangat tidak ada gunanya, tidak perlu, atau bahkan merusak tapi mendapat gaji (paid jobs), dan pekerja BSJ sendiri tidak dapat membenarkan kontribusi pekerjaannya meskipun merasa berkewajiban untuk berpura-pura dalam bekerja.

    “A bullshit job is a form of paid employment that is so completely pointless, unnecessary, or pernicious that even the employee cannot justify its existence even though, as part of the conditions of employment, the employee feels obliged to pretend that this is not the case.”

    Secara sederhana, kita dapat memahami pekerjaan yang bagi David itu “bullshit“, melalui lima tipologi yang telah ia cetuskan: Flunkies, Goons, Duct Tapers, Box Tickers, dan Taskmasters.

    Pertama, Flunkies, pekerjaan yang bertujuan untuk membuat orang lain terlihat atau merasa penting, sebagai misal mereka yang kaya dan berkuasa cenderung dikelilingi oleh pelayan, klien, prajurit, atau sejenisnya yang hadir hanya untuk berdiri sepanjang hari dan memastikan bahwa orang kaya dan berkuasa tersebut adalah orang penting. Biasanya, pelayan itu diberi seragam dan berwajah tampan nan cantik serta menjadi saksi atas kebesaran tuannya, atau dalam istilah David ialah Feudal Retainers.

    Di era modern kekinian yang kapitalistik, feudal retainers bertransformasi dalam berbagai bentuk pekerjaan, seperti orang yang bertugas menekan tombol pintu rumah tuannya (doorman), orang yang bertugas menekan tombol lift, orang yang bertugas menerima tamu di bagian depan gedung (resepsionis), orang yang bertugas sebagai sekretaris pribadi (administrative assistant).

    Teringat, setahun lalu seorang kawanku bercerita tentang kawanku (caleg) yang sedang dalam masa kampanye calon legislatif, demi meraup citra, ia mempekerjakan seorang lelaki yang bertugas membuka pintu mobilnya ketika hendak turun, bahkan mempekerjakan perempuan dewasa yang bertugas hanya untuk berdiri mendampinginya, is it a bullshit job?

    Olehnya itu, flunkies, dihadirkan sebagai suatu pekerjaan hanya untuk membentuk keagungan dan citra kebesaran tuannya, sehingga si flunkies berkata it’s a bullshit job.

    “For without flunkies, to whom, exactly, would they be “superior”?

    Kedua, Goons, pekerjaan yang bertujuan untuk menjaga orang lain. Istilah itu digunakan sebagai metafora untuk setiap orang yang bekerja sebagai Goons bersifat agresif dan manipulatif. Sebagai misal, tentara nasional, negara-negara membutuhkan tentara hanya karena negara-negara lain memiliki tentara.

    David mencontohkan pula pekerjaan kekinian yang termasuk dalam Goons, antara lain adalah public relations, telemarketer (pemasaran), periklanan, dan sejenisnya. Paling mutakhir, kondisi saat ini adalah periklanan, yang tiap saat menyajikan standar-standar manipulatif, dan secara agresif mencoba menjadi suatu solusi atas keadaan.

    Tom, ialah salah satu responden yang bercerita terkait dirinya yang bekerja dalam perusahaan produksi Amerika, bertugas membuat desain iklan bangunan meledak, mobil terbang, dinosaurus menyerang pesawat, dan tipuan efek visual tersebut merambah hingga ke pemasaran produk: sampo, pasta gigi, krim wajah, dan lain sebagainya. Fantanstisnya, Tom digaji sebesar 100 ribu euro setahun, setara dengan 1.6 M rupiah, atau 133 juta tiap bulannya.

    Nampaknya, keseharian kita, terus-menerus diisi oleh orang-orang yang bekerja sebagai Goons, ia melakukan tipuan baik berkomunikasi secara langsung maupun via media sosial, contoh yang sering saya dapati yaitu iklan-iklan pulsa yang menawarkan cashback melalui pesan singkat.

    Ketiga, Duct Tapers, pekerjaan yang hanya ada karena mereka memecahkan masalah yang seharusnya tidak ada, sebagai misal staf IT yang dibayar untuk menutupi kelemahan bosnya yang malas untuk belajar penggunaan teknologi.

    Begitu pula, dalam keseharian kita, duct taper, seseorang yang membersihkan sampah di jalan, hanya karena orang lain yang membuang sampah sembarangan. Bahkan mengutip Freud dengan istilah “Housewife’s Neurosis“, David melihat kondisi tersebut terjadi dalam keluarga, pandangan bahwa istri bekerja untuk seluruh kebersihan domestik, terlebih bekerja atas kekotoran yang dibuat oleh suaminya.

    Pada level sosial, pekerjaan “duct taper” seringkali diasosikan dengan pekerjaan seorang perempuan. Salah satu responden bercerita ke David tentang dirinya yang bekerja di Bandara dan ditugaskan hanya untuk menghampiri dan menenangkan orang-orang yang kehilangan barang bawaan.

    Keempat, Box Tickers, pekerjaan yang hanya ada untuk memastikan organisasinya terlihat melakukan sesuatu, yang kenyataannya, tidak melakukan apapun. Sebagai misal, seseorang yang ditugaskan untuk membuat laporan bulanan atau tahunan yang menggambarkan kualitas kerja organisasinya, seringkali hasil laporannya bernilai baik.

    Teringat, saya menyaksikan kondisi tersebut terjadi pula dalam kampus, beberapa staf akademik dan pengajar, ditugaskan membuat laporan dan hasil riset yang tidak seorangpun membacanya, dalam bahasa keseharian disebut sebagai “formalitas” belaka. Atau dengan kata lain, hanya untuk memenuhi penyesuaian administratif akreditasi.

    Kelima, Taskmasters, tipe ini berkebalikan dengan tipe Flunkies, apabila pada flunkies beranggapan bahwa pekerjaannya sebagai bawahan tidak perlu, sedangkan pada taskmasters pekerjaan menengah-atasan yang sebenarnya tidak perlu.

    Tipe ini terbagi dalam dua sub-kategori; (1) pekerjaan yang hanya bertugas untuk menugaskan pekerjaan kepada orang lain (bawahan) (2) tugasnya tidak berhenti pada memberi tugas kepada bawahan, tapi juga tugas yang diberikan merupakan tugas yang tidak perlu alias “bullshit“.

    Kadangkali, ini terjadi antara anggota dewan dengan staf operasionalnya, yang hanya bertugas memberi tugas kepada staf operasional, mengutip cerita kawanku, sebut saja bekerja dalam tim dewan (staf operasional), satu kasus, dewan hanya bertugas memberikan tugas kepada timnya (membagikan sembako), lalu mengawasi timnya hingga bagaimana cara memasukkan sembako dalam paket kantongan.

    Lain cerita, terjadi pula di tubuh institusi kesehatan di Indonesia, teringat bahwa seorang kepala Puskesmas hanya bertugas untuk memberi tugas kepada pegawainya (bawahan) dalam pembuatan laporan bulanan dan tahunan, kadang-kadang berisi laporan manipulasi demi penyesuaian administrasi. Ini contoh tipe taskmaster sekaligus box ticker.

    Setidaknya, sajian tipologi pekerjaan yang “bullshit” di atas membawa kita pada diskursus realitas struktur kapitalisme hari ini, pada kenyataannya, terdapat pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu ada, sebab berdasarkan cerita orang yang bekerja sendiri menyatakan pekerjaannya tidak berarti untuk dirinya, apalagi untuk dunia.

    Mari belajar membebaskan diri!

    Artikel Lainnya

    Bagaimana Ekonomi Politik Bekerja

    Penulis: Ameliyah Arief Pandemi covid-19 ini banyak membuat saya berusaha mencari kesibukan. Selain belum mendapatkan pekerjaan tetap, di rumah saja membuat saya bosan. Di sisi yang lain, harapan untuk...

    Rakyat Harap Bersabar, Ini Ujian; Presiden Kita Masih Joko Widodo

    Menjadi rakyat kecil di masa pandemi, rasanya seperti sudah terkapar, terinjak-injak pula.

    BPJS Defisit, Pemerintah Terperangkap Solusinya Sendiri

    Penulis: Ratna Jannatin MATepat pada 1 Januari 2014, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) didirikan di Indonesia sebagai upaya pemerintah untuk menjamin kesehatan seluruh warga Indonesia di tengah krisis kesehatan yang terjadi secara...

    Membaca dan Merebut Kembali Kemanusiaan Kita

    Penulis: Andrew Kresna | Gambar : Pexel.com Ada yang lebih membunuh tapi bukan Corona, Tjakep. Ialah Kesepian. “Virus hanya membunuh Anda satu kali, sementara rasa sepi...

    Memahami Kerja, Membebaskan Diri

    Penulis: Muh. Chaeroel Ansar | Gambar: http://www.pixabay.com Pekerjaan, satu hal yang kita perbincangkan secara umum, biasanya diskursus pekerjaan baru kita masuki setelah meraih pendidikan dan dianggap telah memiliki...

    Trending

    Bagaimana Ekonomi Politik Bekerja

    Penulis: Ameliyah Arief Pandemi covid-19 ini banyak membuat saya berusaha mencari kesibukan. Selain belum mendapatkan pekerjaan tetap, di rumah...

    Rakyat Harap Bersabar, Ini Ujian; Presiden Kita Masih Joko Widodo

    Menjadi rakyat kecil di masa pandemi, rasanya seperti sudah terkapar, terinjak-injak pula.

    BPJS Defisit, Pemerintah Terperangkap Solusinya Sendiri

    Penulis: Ratna Jannatin MATepat pada 1 Januari 2014, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) didirikan di Indonesia sebagai upaya pemerintah untuk menjamin kesehatan...

    Membaca dan Merebut Kembali Kemanusiaan Kita

    Penulis: Andrew Kresna | Gambar : Pexel.com Ada yang lebih membunuh tapi bukan Corona, Tjakep. Ialah Kesepian.

    Memahami Kerja, Membebaskan Diri

    Penulis: Muh. Chaeroel Ansar | Gambar: http://www.pixabay.com Pekerjaan, satu hal yang kita perbincangkan secara umum, biasanya diskursus pekerjaan...

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here